Sabtu, 30 Juli 2011

Orang Indonesia Pertama Daki 7 Puncak Dunia


IVAnews - Untuk pertama kalinya, sebuah tim dari Indonesia berhasil mendaki 7 puncak tertinggi di tujuh benua di dunia. The Seven Summiteers pertama dari Indonesia ini adalah Tim Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (ISSEMU) yang beranggotakan Sofyan Arief Fesa (28), Xaverius Frans (24), Broery Andrew Sihombing (22), dan Janatan Ginting (22).

Pendakian 7 puncak (The Seven Summits) benua adalah sebuah pendakian prestisus di dunia pendakian internasional. Dengan mendaki tujuh puncak benua yang terdiri atas Carstensz Pyramid (4.884 mdpl) di Indonesia, Kilimanjaro (5.895 mdpl) di Afrika, Elbrus (5.642 mdpl) di Rusia, Vinson Massif (4.889 mdpl) di Antartika, Aconcagua (6.962 mdpl) di Argentina, Everest (8.848 mdpl) di Nepal, dan Denali (6.194 mdpl) di Alaska, maka secara otomatis pendaki tersebut akan mendapatkan julukan sebagai The Seven Summiteers. Sebuah sebutan yang disepakati secara internasional bagi mereka yang berhasil mencapai 7 puncak.

Sejarah dunia mencatat seorang Richard “Dick” Bass, pemilik Snowbird Ski Resort, Utah, Amerika Serikat berhasil menggenapi pendakian The Seven Summits pada 30 April 1985 dengan Puncak Everest (8.848 mdpl) sebagai penutupnya dan berhasil menciptakan dirinya menjadi The Seven Summiteers pertama di dunia.

Lalu, bagaimanakah dengan Indonesia? Sebagai pemilik salah satu puncak The Seven Summits, seharusnya Indonesia memiliki Seven Summiteers. Usaha mencapai gelar ini dimulai oleh (Alm) Norman Edwin dari Mapala Universitas Indonesia. Tetapi langkahnya harus terhenti di Aconcagua (6.962 mdpl) ketika jenazahnya ditemukan di gunung tersebut bersama jenazah (Alm) Didiek Samsu juga dari Mapala Universitas Indonesia.

Sejak musibah ini terjadi, pendakian untuk menggapai gelar The Seven Summiteer bagi Indonesia bagai hilang begitu saja.

Hingga akhirnya di awal 2009, Mahitala Unpar berhasil mencapai Carstenzs Pyramid pada 23 dan 26 Febuari 2009. Mereka kemudian melanjutkan mendaki 6 puncak lainnya hingga tanggat waktu 2011 dan berhasil.

Berikut kisah mereka mendaki 7 puncak tertinggi dunia, seperti disampaikan dalam rilis yang diterima VIVAnews.com, Jumat 29 Juli 2011:

Carstensz Pyramid, Papua, Indonesia (4.884 mdpl)
Bersama tujuh pendaki Mahitala Unpar, keempat pendaki ISSEMU berhasil mencapai puncak Carstensz Pyramid pada 23 dan 26 Februari 2010. Puncak Carstenzs yang kerap diselimuti kabut menjadi sebuah saksi bisu bahwa perhelatan pendakian Seven Summitsnya ISSEMU sudah dimulai.

Pendakian menuju Puncak Carstensz Pyramid dilakukan melalui jalur normal (atau sering disebut juga sebagai Harrer’s Route). Pendakian di jalur normal akan selalu dimulai dari Lembah Danau-Danau atau Lembah Kuning sebagai pemilihan Basecamp. Selepas dari Basecamp Lembah Kuning, pendaki harus mendaki vertikal ke arah Teras Kecil dan disambung pendakian vertikal menuju Teras Besar.

Setelah itu, tim akan segera tiba di punggungan puncak (summit ridge). Di summit ridge ini pendaki ISSEMU harus melewati jurang besar yang membentang sepanjang +/- 15 meter. Melewati jurang ini diperlukan peralatan pendakian yang lebih lengkap dari sebelumnya dan mengunakan teknik penyeberangan tyrolean, di mana setiap orang harus bergantung di seutas tali yang membentang secara horisontal dan menyeberangi tali tersebut selayaknya pasukan komando yang sedang mengendap-endap.

Dari sini perjalanan menuju puncak tertinggi hanya perlu melewati 2 jurang yang memiliki bentangan hanya kira-kira satu setengah meter sehingga para pendaki dapat lebih mudah mencapai puncak.

Selain Puncak Carstenzs Pyramid, Mahitala Unpar juga berhasil mendaki 8 puncak Pegunungan Sudirman yang membentang dari barat ke timur. Proses pertama pencapaian puncak pertama ini Mahitala Unpar boleh berbangga hati karena di antara sebelas puncak yang berhasil didaki, 4 di antaranya belum pernah didaki oleh siapapun (first ascend).

Kedelapan puncak yang berhasil diraih oleh Mahitala Unpar antara lain Puncak Idenburg (4.730 mdpl), Puncak Merah Putih (4.284 mdpl), Puncak Garuda (4.613 mdpl), Puncak Mahitala (4.610 mdpl), Puncak Unpar (4.523 mdpl), Puncak Jaya atau Soekarno (4.862 mdpl), Puncak Sunday Peak, dan Puncak Carstensz Timur.

Kilimanjaro, Tanzania, Afrika (5.895 mdpl)
Pendakian akhirnya dilanjutkan menuju puncak tertinggi di Benua Afrika yakni Kilimanjaro. Untuk mendaki Kilimanjaro, Tim Pendaki ISSEMU sudah menentukan rute mana yang akan mereka jalani hingga menuju Puncak Uhuru (nama lain dari puncak tertinggi Kilimanjaro).

Untuk menuju Puncak Kebebasan (Uhuru=Kebebasan) para pendaki dapat secara bebas memilih sekian banyak dari rute yang tersedia. Rute-rute menuju puncak tertinggi dibagi menjadi lima, yaitu Marangu, Machame, Shira, Umbwe, Rongai, dan Mweka.

Pada 2007, Mahitala Unpar sempat melakukan sebuah ekspedisi pendakian di Kilimanjaro ini dengan menempuh rute Marangu yang terkenal dengan kelengkapan fasilitasnya dibandingkan rute-rute yang lain. Dengan alasan itulah Tim Pendaki ISSEMU menetapkan pilihan pada rute yang dirasa lebih menantang dan lebih unik.

Pilihan rute menuju puncak akhirnya jatuh pada Rute Machame. Di rute ini para pendaki tidak akan bertemu dengan mini shop, ruang tidur (hut) dan ruang makan seperti halnya yang kerap ditemui di Rute Marangu. Untuk urusan tidur pun mereka harus bermalam di dalam tenda hingga menuju Puncak. Rute Machame adalah rute terindah di antara seluruh rute yang ada.

Opini ini setidaknya dikuatkan oleh buku yang berjudul Kilimanjaro: Africa’s Beacon terbitan Taman Nasional Tanzania tahun 2004. Di buku itu juga ditulis bahwa dengan menyusuri Rute Machame maka para pendaki seakan melakukan napak tilas pada zaman purba Gunung Kilimanjaro.

Dengan segala macam bentangan alam yang menghadang, maka akhirnya Tim Pendaki ISSEMU berhasil menggapai Puncak Uhuru tepat pada 10 Agustus 2010 pukul 10.20 waktu setempat atau pukul 14.00 WIB.

Tim Pendaki ISSEMU memulai summit day mereka dengan berjalan pada pukul 04.00 waktu setempat dari Arrow Glacier Camp (4.868 mdpl) dengan melewati Great Western Branch, sebuah kubah batu masif yang merupakan jalur alternatif tersulit menuju ke Puncak Uhuru.

Perubahan jalur ini dilakukan malam sebelumnya ketika para pendaki ISSEMU mengusulkan untuk mencoba jalur yang lebih sulit kepada pihak Bobby Tours yang menjadi agen perjalanan mereka di Kilimanjaro. Perubahan jalur ini bukanlah tanpa alasan.

Dengan mencoba kenaikan elevasi yang sedikit lebih tinggi, diharapkan para pendaki ISSEMU menguji ketahanan fisik mereka terhadap ancaman penyakit ketinggian. Sehingga dari sini Tim Pendaki ISSEMU mendapatkan hasil evaluasi untuk pendakian gunung-gunung selanjutnya yang akan semakin berat medannya.

Elbrus, Rusia (5.642 mdpl)
Setelah berhasil mencapai Puncak Uhuru yang merupakan puncak tertinggi di Benua Afrika, Tim Pendaki ISSEMU segera melanjutkan pendakiannya menuju Negeri Beruang Merah, Rusia. Pendakian kali ini memang direncanakan secara estafet tanpa harus kembali dahulu ke Tanah Air. Selain meminimalisir bujet, pendakian simultan seperti ini akan menjadi sebuah hal positif bagi para pendaki karena semakin lama di ketinggian maka semakin terbiasalah pendaki dengan ketinggian tersebut.

Negeri tempat dilahirkannya para pecatur andal ini memiliki gunung tertinggi yang hampir seluruhnya tertutup dengan salju. Dengan 2 puncak yang hampir sama tinggi (Puncak Timur dan Barat), Elbrus memberikan tantangan tersendiri bagi para pendaki kelas dunia. Mahitala Unpar sendiri pernah berkesempatan untuk mendaki atap Eropa ini pada pertengahan tahun 2009. Ketika itu Sang Dwi Warna berhasil dikibarkan tepat pada tanggal 17 Agustus 2009.

Keberhasilan pertama kalinya Mahitala Unpar mencapai Puncak Barat (puncak tertinggi Elbrus) membangkitkan semangat ke 4 orang pendaki Tim ISSEMU. Dengan berbekal pengetahuan dan semangat yang baik, pada tanggal 19 Agustus 2010 pendakian menuju Puncak Barat Elbrus segera digelar.

Pada pendakian kali ini, Tim Pendaki ISSEMU memutuskan untuk menembus punggungan salju Elbrus melalui sisi Utara. Sisi Utara Elbrus mendapat pilihan utama karena minimnya fasilitas dan pendakian yang harus dilakukan secara bertahap. Sisi Utara Elbrus memberikan kesan sebuah sisi gunung yang perawan.

Tidak seperti sisi Selatan yang memang kerap menjadi jalur pilihan utama bagi pendaki. Di sisi Selatan Elbrus, para pendaki akan dipermudah dengan fasilitas kereta gantung yang akan meringankan pendaki untuk mencapai ketinggian tertentu. Penginapan dan pondok-pondok kecil pun tersedia di sana. Soal keamanan jangan diragukan lagi. Setiap saat, mobil salju atau disebut sebagai snow cat hilir-mudik untuk mengawasi para pendaki dan para penggila olahraga ski.

Tim Pendaki ISSEMU berhasil mencapai Puncak Timur Elbrus tepat pada tanggal 24 Agustus 2010 pada pukul 14.45 waktu setempat atau sama dengan pukul 17.45 WIB. Dari proses summit attack inilah ternyata tercipta sebuah jalur yang diberi nama Indonesian Route oleh para Rescuer Elbrus (sebutan untuk Jagawana atau Polisi Gunung di Elbrus) sebagai penghargaan kepada Tim Pendaki ISSEMU yang berhasil membuka jalur baru selepas Camp Lenz Rock (4.750 mdpl) tanpa ditemani oleh pemandu ataupun pendaki lainnya.

“Penyerangan” menuju Puncak Elbrus adalah hal yang cukup sulit mengingat Tim Pendaki ISSEMU harus melewati medan salju curam yang memaksa mereka harus menggunakan crampon dan ice axe dengan semaksimal mungkin. Selain itu Tim Pendaki ISSEMU juga sempat dihadang oleh Jet Stream (angin kencang yang suaranya menyerupai pesawat jet) yang berkecepatan kira-kira 50-80 km/jam. Tetapi berkat kegigihan dan semangat yang dimiliki oleh empat pendaki ISSEMU ini, akhirnya Merah Putih berhasil berkibar dengan gagahnya di titik tertinggi Benua Eropa.

Vinson Massif (4.897 mdpl), Antartika
Perjalanan menuju The Seven Summiteers pertama bagi Indonesia hampir separuh jalan. Tim Pendaki ISSEMU sudah mengantongi 3 puncak benua. Kini saatnya petualangan dilanjutkan menuju Benua Putih Antartika yang penuh dengan misteri. Pendakian menuju atap tertinggi Antartika, Vinson Massif, memiliki arti penting karena inilah kali pertamanya tim ekspedisi asal Indonesia menyambangi Benua Antartika untuk mendaki Vinson Massif.

Sebuah kota terujung di sebelah Selatan Benua Amerika Selatan, Punta Arenas, awal dari langkah Tim Pendaki ISSEMU memulai aksinya di Benua Putih Antartika. Tim Pendaki ISSEMU tiba di Punta Arenas pada 30 November 2010. Di kota inilah segala macam kebutuhan pendakian harus dipenuhi. Selain itu Tim Pendaki ISSEMU juga harus menghadiri sebuah presentasi kecil yang diadakan oleh Antarctic Logistic And Expedition (ALE) untuk menjelaskan “tata krama” memasuki Benua Antartika yang merupakan benua terbersih. Setelah itu Tim Pendaki ISSEMU juga harus mendapatkan pemeriksaan ketat peralatan pendakian yang dibawa apakah memenuhi standar yang ditetapkan atau tidak.

Walau sempat tertahan satu hari di Punta Arenas karena cuaca buruk, akhirnya pada 3 November 2010 Tim Pendaki ISSEMU bergerak menuju Union Glacier, sebuah pangkalan milik ALE yang digunakan oleh pesawat berbadan lebar, Iluysin 76 buatan Uni Soviet, untuk mendarat di tengah padang salju.

Dari sini seharusnya segera melanjutkan penerbangan menuju Vinson Base Camp (2.310 mdpl) dengan menggunakan pesawat Twin Otter. Tetapi tampaknya perjalanan harus diundur esok paginya karena ganguan cuaca. Setibanya di Vinson Base Camp pendakian juga harus tertunda selama 3 hari karena cuaca kembali mengganas dan tidak mau kenal kompromi.

Baru pada 7 Desember 2011, Tim Pendaki ISSEMU dapat mulai meninggalkan Vinson Base Camp untuk berjalan menuju camp selanjutnya. Pendakian di Vinson Massif adalah yang paling menarik di antara sekian puncak yang pernah didaki oleh Tim Pendaki ISSEMU. Betapa tidak, di benua serba putih yang pada musim pendakiannya antara November-Januari, matahari tidak pernah berhenti menujukkan sinarnya selama 24 jam penuh.

Selain itu, ketiadaan porter atau pengangkut barang menyebabkan Tim Pendaki ISSEMU harus membawa barangnya sendiri-sendiri bergerak secara bolak-balik dari camp ke camp. Cara mereka membawa barang pun terbilang cukup unik. Selain membawa beban ransel di pundak, setiap pendaki harus menarik sebuah papan seluncur salju atau sled yang berisi barang bawaan masing-masing pendaki.

Tim akhirnya tepat pada 13 Desember 2010 pukul 17.07 waktu Chile atau setara dengan 14 Desember 2010 pukul 03.07 WIB, Merah Putih berhasil dikibarkan di titik tertinggi benua Antartika, Vinson Massif. Keberhasilan ini sekaligus mencatatkan bahwa Tim Pendaki ISSEMU adalah Tim Indonesia Pertama yang berhasil mencapai Puncak Vinson Massif dengan gemilang. Dan di gunung ini pula Tim Pendaki ISSEMU berkenalan pertama kalinya dengan suhu ekstrim -30 hingga -40 derajat Celsius.

Aconcagua (6.962 mdpl), Argentina
Setelah berhasil mengibarkan Sang Dwi Warna untuk pertama kalinya di Vinson Massif, Antartika, perjalanan kembali dilanjutkan. Kali ini Tim Pendaki ISSEMU berjalan mengarah ke Utara dari Punta Arenas untuk memasuki nagara asal Lionel Messi, Argentina.

Di Argentina inilah nantinya Tim Pendaki ISSEMU akan mencoba mendaki Gunung Aconcagua yang memiliki julukan cukup membuat bulu kuduk berdiri, The Devil Mountain. Sebutan ini mewakili kesangaran cuaca di Aconcagua yang memburuk sesukanya tanpa bisa diprediksi dengan baik.

Dalang dari kesangaran Aconcagua tak lain adalah el viento blanco. El viento blanco adalah sebutan dari badai yang amat menakutkan di Aconcagua. Secara tiba-tiba kabut akan menyelimuti kawasan pendakian disertai angin kencang dan hujan salju.

Pada pendakiannya kali ini, Tim Pendaki ISSEMU didukung oleh 2 pendaki Mahitala Unpar lainnya. Detri Wulanjani dan Max Agung Pribadi (yang juga seorang wartawan harian Warta Kota) turut bergabung dalam pendakian Puncak Aconcagua sebagai pendukung untuk menulis berita dan mengabarkan pergerakan tim ke Tanah Air.

Perjalanan panjang menuju Puncak Aconcagua dimulai dari Los Penitentes (2.580 mdpl), sebuah desa kecil tempat Tim Pendaki ISSEMU melaporkan kegiatannya terakhir kali sebelum mereka berjalan selama 3 hari menuju Plaza Argentina (4.200 mdpl). Plaza Argentina merupakan base camp dari pendakian Puncak Aconcagua.

Selain medannya yang sulit, tampaknya Aconcagua memiliki banyak hambatan. Hambatan tersebut datang dari para pemandu yang terlalu ketat dalam memandu perjalanan menuju Puncak Aconcagua.

Terbukti Detri harus diturunkan dengan helikopter menuju Mendoza karena alasan kesehatan. Padahal beberapa pemilik camp di antaranya Daniel Lopez berusaha meyakinkan bahwa Detri akan baik-baik saja walau harus tetap tinggal di ketinggian 4.200 mdpl di Plaza Argentina.

Hambatan serupa akhirnya menimpa Frans dan Janatan Ginting yang dinyatakan tidak layak untuk meneruskan perjalanan ke puncak karena gangguan pernafasan. Beruntung bagi Frans, akhirnya esok harinya ia dinyatakan dapat melanjutkan perjalanan.

Lalu bagaimana dengan Janatan? Walau dapat menetap di Plaza Argentina, Janatan tidak boleh melanjutkan perjalanan meskipun 2 hari setelahnya kondisinya pulih dan dinyatakan layak untuk mendaki Puncak Aconcagua.

Tetapi karena jarak yang terlalu jauh untuk menyusul rekan-rekannya, Janatan terpaksa berberat hati harus menunggu di Plaza Argentina hingga empat pendaki ISSEMU lainnya kembali ke Plaza Argentina. Di sini manajemen ISSEMU di Tanah Air sudah merancang kembali pendakian susulan untuk Janatan setibanya rombongan ISSEMU tiba kembali di Mendoza.

Melalui serangkaian ujian yang terasa berat, akhirnya Tim Pendaki ISSEMU (Sofian, Frans, Broery, dan Agung Max) berhasil mencapai Puncak Aconcagua pada 9 Januari 2011 pada pukul 11.30 waktu Mendoza atau pukul 21.30 WIB.

Sementara itu, Janatan berhasil mencapai Puncak Aconcagua 20 hari kemudian pada 29 Januari 2011. Janatan berhasil menggenapi pendakian Aconcagua dengan menggapai puncaknya. Ia berangkat kembali dari Mendoza menggunakan rute yang berbeda dengan Sofian, Frans, Broery, dan Agung Max yang melalui Polish Traverse Route. Janatan mendaki Aconcagua melalui 360 Route yang merupakan penggabungan dari Normal Route dan Polish Traverse Route.

Everest (8.848), Nepal–Merayakan Hari Kebangkitan Nasional di Puncak Tertinggi di Dunia.

Sejarah mencatat, tepat pada 29 Mei 1953 pukul 11.30 waktu Nepal, Edmund Hillary dan Tenzing Norgay berhasil mencapai Puncak Everest untuk pertama kalinya. Dan sejak saat itulah selama 58 tahun, Everest tetap menjadi mimpi yang amat indah bagi tiap pendaki untuk menggapai puncaknya.

Tercatat dalam www.adventurestat.com bahwa 11.000 kali percobaan dilakukan untuk mencapai Puncak Everest sejak 1922 hingga 2006, di mana hanya 3.000 kali percobaan pendakian yang berhasil. Dari data itu dapat dijabarkan bahwa tingkat kesuksesan pencapaian Puncak Everest adalah 29 persen dengan menelan korban hingga 207 orang meninggal di Everest.

Di puncaknya yang kelima ini, Tim Pendaki ISSEMU kembali menggulirkan petualangnya. Hiroyuki Kuraoka, konsultan pendakian seven summits ISSEMU menyatakan bahwa Tim Pendaki ISSEMU telah memiliki kemampuan yang amat baik dan layak untuk mendaki gunung es sekaliber Everest. Perjalanan dimulai dari Lukla (2.850 mdpl), sebuah desa kecil tempat Tim Pendaki ISSEMU memulai pendakiannya menuju puncak tertinggi di dunia. Dari Lukla Tim Pendaki ISSEMU harus berjalan kaki selama 11 hari menuju Everest Base Camp (EBC). Tim Pendaki ISSEMU tiba di EBC pada tanggal 12 April 2011.

Proses aklimatisasi sangat dibutuhkan bagi para pendaki gunung di atas 4.000 mdpl. Dengan program aklimatisasi yang baik diharapkan para pendaki dapat menyesuaikan diri dengan ketinggian yang semakin ke atas akan semakin berkurang kadar oksigennya sehingga pendaki dapat meminimalisir serangan Acute Mountain Sickness (AMS). Dalam pendakian menuju Puncak Everest, Tim Pendaki ISSEMU melakukan 4 kali program aklimatisasi, yaitu : proses perjalanan dari Lukla hingga EBC, pendakian Lobuche East (6.171 mdpl), pendakian camp 1 Pumori, dan pendakian ke camp 2 Everest (6.462 mdpl).

Selain empat Pendaki ISSEMU, Mahitala Unpar mengerahkan sebanyak 10 orang anggotanya (termasuk wartawan Kompas Ahmad Arif yang diberangkatkan untuk meliput pendakian ini) khusus diberangkatkan menuju EBC untuk membantu kelancaran proses pendakian Everest yang memakan waktu 2 bulan lebih.

Selain tim pendukung, pendakian Tim ISSEMU di Everest melibatkan 17 orang sherpa yang terbagi dalam beberapa bidang. Sebut saja climbing sherpa yang membantu secara langsung proses pendakian menuju Puncak Everest, high altitude cheff yang diposisikan selama pendakian Everest kali ini berada terus di Advance Base Camp atau Camp 2 dan para staf EBC yang membantu kelancaran pendakian dari base camp.

Tim Pendaki ISSEMU melakukan proses pendakian menuju Puncak Everest dalam dua kali percobaan. Pada percobaan pertama Tim Pendaki ISSEMU bertolak menuju camp 2 pada tanggal 10 Mei 2011. Dan pada tanggal 12 Mei mereka sudah tiba di camp 3 (7.300 mdpl) dengan mulus tanpa hambatan.

Tetapi nasib berkata lain, baru saja 3 jam mereka melepas lelah di camp 3, tiba-tiba saja angin bertiup dengan kencang. Hiroyuki Kuraoka sebagai expediton leader dari Tim Pendaki ISSEMU harus memutuskan bahwa seluruh Pendaki ISSEMU untuk turun ke camp 2.

Setibanya di camp 2, Tim Pendaki ISSEMU mendapat kabar bahwa menurut ramalan cuaca, kawasan Everest akan memburuk cuacanya hingga seminggu ke depan sehingga seluruh rangkaian pendakian harus ditunda dan ini menandakan bahwa seluruh proses kegiatan pendakian yang dilakukan oleh para pendaki di sana harus segera di hentikan hingga cuaca membaik.

Tercatat hanya ada satu tim dari International Mountain Guide yang memutuskan untuk tetap mendaki menuju Puncak Everest hari itu dan berhasil keesokan harinya.

Akhirnya dengan penantian yang cukup lama, berita gembira bahwa cuaca Everest menunjukkan tanda-tanda yang baik berhasil didapatkan oleh Russel Brice, pimpinan Himalayan Experince. Dari sinilah Tim Pendaki ISSEMU akan segera menggelar percobaan keduanya mencapai puncak dari segala puncak gunung di dunia. Tanggal 17 Mei 2011 pk 10.15 waktu Nepal, summit push kedua kalinya untuk Tim Pendaki ISSEMU kembali dilakukan.

Tercatat pada 19 Januari 2011 akhirnya mereka berhasil tiba di South Col di ketinggian 7.900 mdpl. South Col kerap disebut sebagai pintu menuju Death Zone yang berarti bahwa mereka akan segera berhadapan dengan ketinggian 8.000 meter ke atas dan menandakan pula suatu daerah di mana orang mustahil untuk hidup tanpa bantuan oksigen.

Akhirnya semua usaha yang begitu keras terbayar sudah ketika Tim Pendukung ISSEMU mengabarkan bahwa Broery Andrew Sihombing berhasil mengibarkan Bendera Merah Putih di Puncak Maha Gunung Everest tepat pada tanggal 20 Mei 2011 pukul 05.22 waktu Nepal atau pukul 06.37 WIB.

Disusul kemudian oleh Janatan Ginting berhasil menembus ketinggian 8.848 mdpl pada pk. 07.26 waktu Nepal atau pk. 08.41 WIB. Diikuti oleh Sofyan Arief Fesa dan Frans yang mencapai Puncak Everest bersamaan pada pk. 09.45 waktu Nepal atau pk. 11.00 WIB sekaligus menggenapi prestasi Tim ISSEMU yang mendaki Everest dengan hasil one hit one victory. Perayaan pencapaian Everest ini mendapatkan pujian dari berbagai pihak bahwa anak bangsa berhasil mengibarkan Bendera Merah Putih di puncak Everest tepat perayaan Hari Kebangkitan Nasional.

Denali (6.194 mdpl), Alaska – The Seven Summiteers Pertama Untuk Indonesia
Rencana awal Tim ISSEMU bahwa pendakian akhir menuju puncak ke tujuh akan dilaksanakan pada Mei 2012. Tetapi berkat usul dari Hiroyuki Kuraoka bahwa sebaiknya pendakian Denali janganlah diundur selama itu.

Usulan ini cukup beralasan karena bulan Juni-Juli masih termasuk dalam musim pendakian Denali. Selain itu ia menambahkan bahwa Tim Pendaki ISSEMU masih memiliki stamina yang baik sepulangnya dari Everest dibandingkan mereka harus menetap di Tanah Air selama setahun lamanya yang pasti akan menurunkan stamina dan pembiasaan terhadap high altitude.

Dari masukan inilah akhirnya Tim Pendaki ISSEMU segera bertolak menuju Alaska selang 3 minggu beristirahat di Tanah Air. Pendakian Denali adalah pendakian yang tersulit karena para pendaki harus menghadapi jarak vertikal sepanjang 3.969 meter tanpa bantuan pengangkut barang atau porter (catatan: jarak vertikal Everest adalah 3.548 meter ditambah dukungan penuh dari para porter pengangkut barang dan para sherpa).

Di Denali tiap pendaki harus membawa perlengkapannya sendiri, mendirikan tendanya sendiri dan memasak sendiri. Perlengkapan yang dibawa memiliki berat total 50 kilogram dengan pembagian 20 kilogram akan dibawa dengan ransel yang menggantung di pundak dan 30 kilogram berikutnya akan dibawa dengan kereta salju atau sled yang akan ditarik oleh masing-masing pendaki.

Tim Pendaki ISSEMU tiba di Base Camp Denali (2.225 mdpl) di Padang Salju Kalhitna (24 Juni) setelah sebelumnya terbang dengan pesawat tipe Fokker dari Kota Talkeetna. Karena ketiadaan pengangkut barang maka Tim Pandaki ISSEMU harus membawa barang-barang mereka secara bertahap dari camp ke camp hingga akhirnya mereka akan tiba di High Camp (5.242 mdpl).

Selama proses pendakian ini mereka banyak menghadapi hambatan. Hambatan terbesar datang dari cuaca yang tidak menentu. Tercatat selama 19 hari pendakiannya di Denali, Tim Pendaki ISSEMU sempat tertahan beberapa hari di dalam tenda untuk menunggu meredanya cuaca buruk sehingga proses untuk menambah ketinggian berhasil dilakukan.

Hingga akhirnya kabar gembira itu diterima di Tanah Air bahwa Tim Pendaki ISSEMU berhasil mencapai Puncak Denali pada 7 Juli 2011 pukul 17.37 waktu setempat atau sama dengan tanggal 8 Juli 2011 pukul 08.35 WIB.

Prestasi gemilang ini sekaligus menorehkan sebuah sejarah baru di dunia pendakian Tanah Air bahwa setelah sekian lama akhirnya Indonesia memiliki The Seven Summiters pertamanya yang dipersembahkan oleh empat Pendaki ISSEMU.

Ini juga menandakan bahwa Indonesia akan segera bergabung bersama 52 negara di dunia yang memiliki pendaki bertitel The Seven Summiteers dan sekaligus akan bergabung bersama 275 pendaki internasional yang memiliki titel serupa.

Ekspedisi 7 puncak ini berhasil dilakukan lewat dukungan penuh dari PT Mudking Asia Pasifik Raya yang bergerak di bidang penyewaan dan penjualan peralatan pengeboran minyak dan gas bumi yang berkedudukan di Jakarta. Melalui program Corporate and Social Responsibility (CSR), PT Mudking Asia Pasifik Raya memberikan kontribusi terbesar dalam menyukseskan keberhasilan pendakian tujuh puncak benua ini. (art)

Sabtu, 23 Juli 2011

Indonesia Berprestasi di Olimpiade Matematika

VIVAnews - Tim Indonesia kembali meraih prestasi di ajang Olimpiade Matematika Internasional, yang kali ini digelar di Amsterdam Belanda.

Putra-putri dari Indonesia, yang terdiri dari 6 murid sekolah menengah, berhasil menggenapi target yang mereka pikul. Kesemua siswa berhasil meraih medali di ajang bergengsi internasional ini.

"Hasil tahun ini lebih baik daripada tahun 2010 di Kazakhstan," ujar Hery Susantu, ketua tim Indonesia, seperti dikutip oleh situs Radio Netherlands Worldwide (RNW). Tahun lalu, tim Indonesia hanya mendapat 1 medali perak dan 4 medali perunggu. Kali ini, tim berhasil meraih 2 medali perak dan 4 medali perunggu.

Medali perak berhasil digaet Johan Gunadi dari BPK Penabur 5 Jakarta, dan Ivan Wangsa dari BPK Panabur 1 Jakarta. Sementara medali perunggu diperoleh Tobi Mukti Jono dari IPK Internasional Jakarta, Pramudya Ananto dari Taruna Nusantara Magelang, Achmad Zaki siswa SMA Negeri 8 Jakarta, dan Stefanus dari BPK Penabur 1 Jakarta.

Pada turnamen ini, juara dunia disabet oleh Lisa Sauermann, siswi sekolah menengah Jerman berusia 18 tahun. Lisa memecahkan semua masalah dengan sempurna, dengan mengukir 42 poin.

Posisi kedua ditempati Jeck Lim dari Singapura dengan 40 poin, dan tempat ketiga oleh Lin Chen dari Cina dengan 38 poin. Cina, Amerika Serikat dan Singapura menjadi tim yang meraih medali terbanyak di ajang ini.

Olimpiade matematika internasional atau Olimpiade International Mathematical Olimpiad (IMO) merupakan olimpiade matematika terbesar di dunia, yang rutin diselenggarakan dan kali ini merupakan olimpiade ke 52.

Olimpiade ini untuk pertama kalinya dilangsungkan di Belanda dan diikuti oleh 564 siswa sekolah dari 101 negara. Dari seluruh peserta, 57 diantaranya siswa perempuan.

Jumat, 22 Juli 2011

Ibu Negara Puji Karya Pewarta Foto Indonesia


Jakarta (ANTARA News) - Ibu Negara Hj. Ani Susilo Bambang Yudhoyono memuji karya para pewarta foto Indonesia karena tidak kalah dibanding rekan seprofesi mereka dari luar negeri.

"Menurut pendapat saya hasil karya fotografer Indonesia memang bagus-bagus dan dapat bersaing," kata Ibu Ani Yudhoyono saat memberikan sambutan dalam Malam Anugerah Pewarta Foto Indonesia (APFI) 2010 di Jakarta, Kamis malam.

Ibu Negara mengatakan, beberapa karya pewarta foto Indonesia pernah mendapat penghargaan dalam ajang World Press Photo.

Hal itu, menurut Ibu Ani, menunjukkan daya saing karya pewarta foto Indonesia pada tingkat global, baik dari segi hasil, teknik, dan teknologi.

Ibu Ani, yang juga memiliki hobi fotografi, mengaku bahwa dirinya kagum setiap kali menyaksikan hasil karya pewarta foto Indonesia.

Oleh karena itu, katanya, perlu ajang kompetisi semacam APFI sebagai wadah apresiasi karya foto jurnalis Indonesia.

Foto jurnalistik, dinilai Ibu Ani, adalah bagian dari demokrasi, sekaligus saksi perjalanan kehidupan bangsa.

Oleh karena itu, Ibu Negara berharap, para pewarta foto masa kini bisa mencontoh semangat para pewarta foto zaman revolusi kemerdekaan saat ikut merebut kemerdekaan.

Panitia APFI 2010 menerima 3.200 karya foto jurnalistik yang dikirim oleh 311 pewarta foto dan masyarakat umum selama kurun waktu 2010.

Foto berjudul "Dihadang Polisi" karya pewarta foto Harian Kontan, Fransiskus Simbolon, terpilih sebagai Foto Jurnalistik Terbaik 2010.

Karya foto jurnalistik itu menggambarkan Sumarsih, aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) dalam "Aksi Kamisan", yang sedang berusaha mendekati iring-iringan mobil Wakil Presiden Boediono.

Selain itu, foto berjudul "Nasib Malang Harimau Pincang" karya pewarta foto Kantor Berita ANTARA, F.B. Anggoro, mendapatkan penghargaan khusus.

Pewarta foto Kantor Berita ANTARA, Widodo S. Jusuf dan Jessica Wuysang, juga mendapat penghargaan untuk kategori yang berbeda, yaitu "People in the News" dan "Environment and Nature".

Panitia juga secara khusus memberikan penghargaan Abdi Karya Sepanjang Masa (Life Time Achivement) kepada pewarta foto Kantor Berita ANTARA, Abdul Wahab Saleh, serta dua pewarta foto IPPHOS, yaitu Frans Soemarto Mendur dan Alexius Impurung Mendur.

Abdul Wahab Saleh adalah pewarta foto yang mengabadikan peristiwa perobekan bendera Belanda warna merah putih biru menjadi merah putih simbol bendera Republik Indonesia (RI) di Hotel Oranye (kini Hotel Majapahit), Surabaya, Jawa Timur.

Frans Mendur dan Alex Mendur mengabadikan sejumlah peristiwa sejarah, antara lain proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Penghargaan Abdi Karya Sepanjang Masa diserahkan langsung oleh Ibu Ani Yudhoyono kepada perwakilan keluarga ketiga pewarta foto itu.

APFI digelar pertama kali pada 2009. Saat itu, ajang yang digelar oleh Pewarta Foto Indonesia berhasil menjaring 3.026 karya foto jurnalistik
(T.F008/Z002)

Kamis, 21 Juli 2011

BPPT Susun "Peta Jalan " Nanoteknologi Bidang Farmasi

Jakarta (ANTARA News) - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mulai menyusun "peta jalan" teknologi nano, khusus untuk produk farmasi dan kesehatan, karena semakin pentingnya teknologi nano dalam meningkatkan kemandirian bangsa.

"Roadmap' akan selesai disusun dalam beberapa bulan dan tahap aplikasi dan 'upscalling'-nya akan tuntas dalam 2-3 tahun ke depan," kata Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Agro dan Bioindustri Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Dr Listyani Wijayanti di Jakarta, Minggu.

Teknologi nano, urai Listyani Wijayanti, merupakan cabang ilmu pengetahuan yang berkembang sangat pesat di dunia dalam 10 tahun terakhir dan karena itu tidak mungkin lagi jika Indonesia mengabaikan riset-riset mengenai nanoteknologi.

Sambil menyusun roadmap, lanjut Listyani, BPPT juga sudah meriset mengenai nanoherbal dari tanaman obat, antara lain tanaman tradisional Indonesia, sambiloto, yang juga terkait dalam program saintifikasi jamu.

"Dengan teknologi nano, produk herbal tidak menghasilkan ampas, lebih stabil dan efektif dalam mengobati, karena dengan ukuran partikelnya yang berukuran nano (berdiameter antara satu-100 nanometer -red) penyerapan jauh lebih baik," katanya.

Saat ini, BPPT juga sedang bekerja sama dengan industri kosmetik dalam meriset tanaman herbal seperti pegagan untuk anti-acne dan bahan khitosan untuk anti-aging dengan teknologi nano.

"Kosmetik anti-aging dan anti-acne memiliki pasar yang luar biasa besar. Sayangnya pasar untuk teknologi nano belum digarap oleh industri nasional kita dan terpaksa diisi teknologi impor dan hasil riset dari luar," katanya.

Pihak industri, ujarnya, menginginkan adanya informasi dan basis data(data base) tentang hasil riset dan produk-produk teknologi nano dari institusi riset dalam negeri yang bisa diaplikasikan secara cepat.

Pada "focus group discussion" tentang nanoteknologi di bidang farmasi di Puspiptek, Tangerang, Selasa, ahli teknologi nano dari ITB, Dr Heni Rachmawati menyatakan, suatu ukuran partikel nano akan meningkatkan sifat kelarutan obat, transportasi dan pelepasan senyawa aktif yang terkontrol serta memperbaiki stabilitas obat yang bersangkutan.

"Pada gilirannya, pemanfatan teknologi nano dalam produk farmasi dapat menekan biaya dan efek toksik suatu obat pada dosis terapinya," katanya.
(*)

Rabu, 20 Juli 2011

Mewujudkan Kemandirian Industri Vaksin Nasional


Jakarta (ANTARA News) - Ingat saat divaksinasi di masa kecil? Lembaga atau perusahaan mana yang memproduksi vaksin dan ternyata vaksin diproduksi oleh PT Bio Farma (Persero) yang berkantor pusat di Bandung.

Saat ini BUMN kebanggaan nasional tersebut berusia 121 tahun.

Pertanyaan yang juga terkadang muncul adalah apakah vaksin yang diproduksi Bio Farma aman, khususnya untuk bayi dan anak-anak balita?

Faktanya, sampai saat ini masih banyak orangtua yang mengkhawatirkan vaksinasi (imunisasi) terhadap anak-anaknya karena beredar kabar bahwa vaksin yang digunakan tidak aman.

Ada pula pihak-pihak tertentu yang melakukan kampanye hita,mengenai vaksin Bio Farma, entah dengan tujuan apa.

Sementara itu beberapa waktu lalu pernah beredar berita tentang kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI) yang terhitung berat seperti kasus Sinta Bela (siswi Madrasah Ibtidaiyah Al Huda, Jatimulya, Kabupaten Bekasi) yang menurut orangtuanya lumpuh setelah diimunisasi.

Namun sebagaimana diberitakan media massa juga, berdasarkan hasil pemeriksaan oleh dokter-dokter ahli di bidangnya terbukti bahwa kelumpuhan anak itu terjadi karena tuberkulosis di tulang belakang yang sudah berlangsung lama dan bukan akibat dari imunisasi.

Kemudian, ketika terjadi wabah polio di Jawa Barat, beberapa anak lumpuh setelah diberikan vaksin polio.

Dengan pemeriksaan virus (virologi) terbukti bahwa kelumpuhan tersebut diakibatkan virus polio liar yang sudah menyerang anak-anak tersebut sebelum mereka mendapatkan imunisasi polio.

Beberapa KIPI berat lain, setelah diperiksa oleh ahli-ahli di bidangnya terbukti terjadi akibat penyakit lain yang sudah ada sebelumnya serta bukan diakibatkan oleh imunisasi.

Dalam kaitan ini Dr. Soedjatmiko, SpA(K), MSi selaku Sekretaris Satuan Tugas (Satgas) Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dalam acara Pfizer Journalist Class dengan tema "Hak Anak Untuk Sehat dan Cerdas" di Jakarta beberapa waktu lalu menjelaskan, vaksin dibutuhkan untuk menurunkan angka kematian bayi dan balita, terutama untuk pencegahan penyakit menular. Vaksin dimaksud diproduksi oleh Bio Farma.

Menurut Dr. Soedjatmiko, vaksin produksi Biofarma telah diekspor ke 110 negara, dan ini membuktikan bahwa vaksin Indonesia aman untuk digunakan.

Sebelum vaksin digunakan secara luas, terlebih dahulu dilakukan penelitian secara bertahap selama 10 sampai 15 tahun.

Awalnya vaksin dirancang oleh sekelompok ahli, lalu diujikan pada hewan percobaan, kemudian diuji pada manusia dari sisi keamanan, daya kekebalan, dan daya perlindungannya.

Selain itu vaksin produksi Bio Farma juga diawasi dan telah disetujui oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Vaksinasi atau imunisasi merupakan pencegahan yang spesifik, efisien, dan efektif terhadap penyakit menular dan berbahaya seperti tuberkulosis, polio, difteri, pertusis, tetanus, campak dan penyakit lainnya.

Biasanya dua sampai empat minggu setelah anak diimunisasi, maka sudah tumbuh kekebalan di dalam diri anak tersebut.

Vaksin yang diberikan bisa berisi bakteri yang dilemahkan (vaksin BCG, tifoid oral), bakteri mati (DPT, Hib, penumokokus, tifoid), virus yang dilemahkan (polio, campak, cacar, MMR, rotavirus), virus yang mati (hepatitis A dan B, influenza, kanker leher rahim, rabies) atau toksoid (racun yang dilemahkan untuk vaksin tetanus dan difteri).

Sementara itu terkait soal kehalalan vaksin, Pemerintah melalui Kementrian Kesehatan menyatakan bahwa vaksin Indonesia bukan hanya aman, namun juga halal untuk digunakan.

Saat isu masalah kehalalan vaksin muncul, Menteri Kesehatan pada periode lalu, dr Siti Fadilah Supari misalnya, pernah mengaskan bahwa vaksin produksi Bio Farma aman dan halal untuk digunakan.

Menurut dia, ada dugaan bahwa pihak asing melakukan upaya pelemahan industri farmasi dalam negeri dengan menghembuskan isu bahwa vaksin Indonesia haram digunakan, sementara vaksin Biofarma yang telah mendapatkan pengakuan WHO telah diekspor ke lebih dari 100 negara, termasuk negara-negara di Timur Tengah, dan ini membuktikan tidak adanya masalah dengan vaksin tersebut.

Pengakuan WHO

Terkait dengan vaksin yang diakui WHO, negara-negara yang mayoritas berpenduduk Muslim mengeluhkan sulitnya mendapat pengakuan atau prakualifikasi dari WHO atas produk vaksin mereka. Dari 23 negara Islam penghasil vaksin, baru Indonesia (dalam hal ini PT Bio Farma) yang mendapatkan berbagai sertifikat prakualifikasi untuk produk vaksin.

Fakta tersebut mengemuka pada Pertemuan Tahunan ke-6 Bank Pembangunan Islam (IDB) tentang Program Kemandirian Produksi Vaksin yang berlangsung di Bandung dari tanggal 6 hingga 9 Agustus 2010.

"Selain Indonesia, belum ada yang mendapatkan prakualifikasi WHO," kata Dr. Houda Langar, Penasihat WHO untuk kawasan Timur Mediterania yang berpusat di Kairo Mesir pada pertemuan yang bertema "Self Reliance in Vaccine Production Program" itu.

Di hadapan peserta pertemuan tahunan tersebut, Penasihat WHO asal Tunisia itu menegaskan, prakualifikasi mutlak dibutuhkan.

Prakualifikasi merupakan penilaian independen untuk kualitas, keamanan, dan keampuhan vaksin guna memastikan vaksin bisa dipakai untuk target penduduk serta untuk memenuhi kebutuhan program imuniasi.

Juga diperlukan untuk memastikan kepuasan berkesinambungan dengan spesifikasi dan standar kualitas yang telah ditetapkan.

WHO menetapkan, vaksin yang akan diproses untuk mendapatkan prakualifikasi harus memenuhi persyaratan badan regulasi nasional. National Regulatory Authority (NRA) itu ada di masing-masing negara pembuat vaksin.

Untuk Indonesia, misalnya, perlu memenuhi persyaratan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Sementara itu Bio Farma yang telah mendapatkan prakualifikasi WHO, dalam usianya yang ke-121 bertekad mewujudkan kemandirian industri vaksin nasional.

Kemandirian industri vaksin nasional itu telah dimulai sejak 1999 dengan melakukan sinergi Academic, Business, and Government (ABG) untuk membangun dan mengembangkan industri vaksin dengan baik.

Dalam kaitan ini, sebagaimana dijelaskan oleh Dirut Bio Farma Iskandar pada media gathering tanggal 12 Mei 2011 di Jakarta, pihaknya telah merintis kerjasama dengan berbagai pihak, antara lain dengan beberapa perguruan tinggi terkemuka, baik di dalam maupun di luar negeri.

Iskandar juga menyatakan optimistis bahwa Bio Farma sebagai satu-satunya produsen vaksin dan antisera di Indonesia yang telah memenuhi kebutuhan program imunisasi nasional akan mampu menjadi pemain dalam pasar vaksin global.

Selasa, 19 Juli 2011

Dua Orang Indonesia Terima Penghargaan di Amerika

Jakarta (ANTARA News) - Benjamin Hioe dan Rima McGraw, dua orang Indonesia yang selama ini bermukim di Georgia, Amerika Serikat, menerima penghargaan "Most Influential Asian American 2011" dari Georgia Asian Times (GAT), sebuah media berpengaruh di negara bagian Georgia, Amerika Serikat.

Kedua tokoh orang Indonesia itu menerima penghargaan tersebut bersama 23 orang lainnya yang berasal dari berbagai negara di Asia, Al Busyra Basnur, Konsul Jenderal RI di Houston, AS, mengatakan dalam sebuah pernyataan pers, Kamis.

Rima adalah CEO Karmila Design dan pendiri Sanggar Lestari, sementara Ben adalah aktivis Indonesian Community Heritage Foundation (ICHG) dan Direktur Photographi GAT.

Penghargaan tersebut diserahkan oleh Li Wong, Presiden Direktur dan penerbit GAT dalam suatu gala dinner yang diselenggarakan 14 Juli 2011 di Norcross, Atlanta, Georgia.

Li Wong mengatakan bahwa penerima penghargaan itu diseleksi oleh GAT, wartawan komunitas Asia yang aktif dalam kegiatan kemasyarakatan Asia-Amerika di Georgia dan nominasi terbuka yang berasal dari masyarakat Georgia.

Ditambahkan, calon penerima penghargaan adalah warga keturunan Asia-Amerika di Georgia. Mereka memiliki berbagai profesi dan berprestasi di bidang seni budaya, sosial kemasyarakatan, bisnis, pemerintahan, politik, pendidikan, peradilan, penelitian, ilmu pengetahuan dan teknologi serta bidang-bidang lainnya.

Sumbangan nyata mereka juga harus berpengaruh di dalam kehidupan masyarakat di Georgia. Penyerahan penghargaan 2011 ini merupakan yang keenam kalinya diselenggarakan GAT.

Benjamin Hioe atau lebih dikenal Ben Hioe, berasal dari Jakarta, bermukim di Atlanta sejak 30 tahun lalu. Ben dikenal sering membantu masyarakat, khususnya warga Indonesia di Atlanta dan sekitarnya.

Ia juga aktif dalam kegiatan kemasyarakatan di Georgia, diantaranya sebagai salah seorang penggagas dan berkarya di Indonesian Community Heritage Foundation (ICHF), suatu organisasi sosial kemasyarakatan yang dibentuk secara swadaya oleh komunitas masyarakat Indonesia di Atlanta.

Dalam kesehariannya, Ben Hioe mempunyai hobi fotografi, dan menjabat sebagai Direktur Fotografi harian Georgia Asian Times.

Rima McGraw dikenal sebagai seorang relawan masyarakat yang tidak kenal lelah. Ia memiliki perhatian yang besar dibidang kegiatan seni dan sosial budaya. Dalam kesehariannya ia sering membantu warga Indonesia di Georgia.

Rima juga aktif berkontribusi sebagai relawan Yayasan Padi Nusantara, sebuah yayasan sosial yang telah berstatus sebagai organisasi non profit di Amerika Serikat. Yayasan ini bergerak dibidang pendidikan, pemberian beasiswa dan bantuan kemanusiaan, khususnya kepada anak-anak buta huruf dan anak-anak yang tidak mampu di Indonesia.

Tahun 2001, bersama beberapa orang kawan warga Indonesia, Rima membentuk Sanggar Lestari Indonesia, organisasi seni budaya beranggotakan komunitas Indonesia dan asing di Georgia. Sanggar tari ini mengkhususkan diri untuk mempromosikan seni budaya Indonesia kepada masyarakat Amerika Serikat khususnya di Georgia.

Rima, insinyur sipil itu sebelumnya bekerja di Heery International Inc, sebuah perusahaan jasa konstruksi dan manajemen terkemuka di Atlanta. Kemudian ia memutuskan untuk memusatkan perhatiannya pada kegiatan sosial kemasyarakatan.

Lebih 300 orang tamu hadir dalam gala dinner tersebut, antara lain Konsul Jenderal Indonesia Al Busyra Basnur, Konsul Jenderal Jepang Takuji Hanatani, Konsul Jenderal Kehormatan Filipina Ray Donato, Jaksa Agung Georgia Sam Olen, Ketua Partai Republik Georgia Sue Everhart, dan Pimpinan Golongan Minoritas di Parlemen Georgia Stacey Abrams.

Al Busyra Basnur, Konsul Jenderal RI di Houston yang wilayah kerjanya mencakup negara bagian Georgia menyatakan sangat senang dan berbahagia karena orang Indonesia di Georgia, Rima dan Ben menerima penghargaan dari GAT.

"Ini menunjukkan bahwa orang Indonesia bisa berperan positif dan tampil dominan dimana saja, termasuk
di tengah masyarakat Amerika Serikat di Georgia", kata Al Busyra.

Konjen Al Busyra mengharapkan agar prestasi Rima dan Ben dapat menjadi suri tauladan dan cambuk bagi masyarakat Indonesia lainnya di Amerika Serikat, khususnya wilayah kerja KJRI Houston.

"Peran masyarakat Indonesia sangat penting dalam meningkatkan dan mempererat persahabatan antar bangsa dan negara", katanya.

Rabu, 13 Juli 2011

Indonesia Perlu Kembangkan Teknologi Kelola SDA


Bogor (ANTARA News) - Bangsa Indonesia perlu mengembangkan teknologi di berbagai bidang, untuk mengelola kekayaan sumberdaya alam (SDA) demi meningkatkan kualitas dan kesejahteraan hidup masyarakat.

Wakil Rektor I bidang Akademik dan Kemahasiswaan Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Dr Yonny Koesmaryono, di Bogor, Senin, mengatakan bahwa sebagai bangsa yang besar Indonesia memiliki kebutuhan terhadap pengembangan teknologi.

"Indonesia sangat memerlukan pengembangan teknologi. Pengembangan teknologi dimaksudkan untuk meningkatkan taraf hidup dan kualitas kesejahteraan masyarakat," kata Prof Yonny.

Dikatakannya, bangsa-bangsa besar dunia pada umumnya menaruh perhatian besar pada pengembangan teknologi.

"Negara-negara maju di dunia dapat berkembang dengan pesat karena perkembangan teknologi yang mereka lakukan," ujar Prof Yonny.

Oleh karena itu, Prof Yonny mengajak semua pihak, terutama kalangan perguruan tinggi, agar mengembangkan "technopreneurship" alias usaha berbasis teknologi untuk memberdayakan secara optimum sumber daya alam di Indonesia yang kaya.

Prof Yonny Koesmaryono membuka "Seminar Nasional dan Ekspo Social Technopreneurship Indonesia" yang digagas Recognition and Mentoring Program (RAM-P) IPB.

Kegiatan tersebut dipusatkan di Cico Resort Bogor, Jalan Cimahpar- Sukaraja, Kelurahan Cimahpar, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor.

Editor: Ella Syafputri

Selasa, 05 Juli 2011

Tim Tari SMA Labschool Rawamangun Sabet 3 Medali di Cyprus Utara


Anwar Khumaini - detikNews

Jakarta - Prestasi anak bangsa di kancah dunia kembali ditoreh oleh grup tari dan musik tradisional SMA Labschool Rawamangun Jakarta. Mereka meraih 3 medali pada kegiatan the 16th International Iskele Municipality Folk Dance Festival yang berlangsung dari tanggal 29 Juni – 5 Juli 2011 di kota Iskele, Cyprus Utara.

Seperti rilis yang diterima detikcom, Selasa (5/7/2011), grup yang beranggotakan 28 siswa-siswi ini berhasil menyabet 3 penghargaan di Festival Gala Night, yaitu: 2nd Award Winner, Iskele Festival Award dan Best Music Award.

Leo Mokodompit dari IOV Youth Section Indonesia selaku group leader mengatakan, prestasi ini diraih setelah menampilkan 7 tarian tradisional dari berbagai daerah Nusantara, antara lain tari Saman (Aceh Gayo), tari Kembang Amprok (Betawi), tari Pagelu (Toraja), tari Alar-alar (Kalimantan), tari Indang Bandantak (Minang), tari Bali dan Yosim Pancar (Papua).

"Penampilan mereka benar-benar memukau masyarakat Cyprus Utara selama 5 hari berturut-turut dengan keanekaragaman budaya Nusantara melalui tari dan musik," kata Leo.

Festival yang dibuka oleh Presiden dan Perdana Menteri Cyprus Utara ini diikuti oleh berbagai negara, antara lain Mexico, Turki, Rusia, Palestina dan Korea Selatan.

"Selama empat bulan mereka berlatih intensif. Ini menjadi pencapaian prestasi luar biasa bagi anak-anak," ujar Susan Susiana, guru Labschool yang turut mendampingi tim tari dan musik ini.

Tim Rusia yang terdiri dari para penari senior profesional menerima 1st Award Winner, Best Male Dancer Award yang diterima oleh seorang penari dari Mexico dan Best Female Dancer Award yang diterima oleh seorang penari dari Korea Selatan.