Rabu, 25 Mei 2011

Kecil-kecil Jadi Pengusaha, A Gokil Story

Jafar Sidik

Tapi gua maunya naskahku jangan diedit kebanyakan, ntar jadi kayak tulisan Pak Dendy Kepala Pusat Bahasa hihihi"

Jakarta (ANTARA News) - Tak pelak lagi gadis remaja berusia 15 tahun bernama Nilam Zubir ini memiliki bakat amat besar untuk menjadi seorang penulis besar kelak.

Perhatikan cara menulis pelajar kelas tiga SMP yang pernah menjadi presenter cilik ini. Dia mampu menularkan pengalaman konyol dari keseharian hidupnya yang sebenarnya serius, kepada pembaca. Ia sungguh berbakat menggerakkan orang lain berbuat, atau setidaknya terbuai oleh ceritanya.

Abaikan dulu Bahasa Indonesia yang baik dan benar, tapi tangkaplah pesan-pesan besar dalam cerita 'gilanya' saat bagaimana orang seusianya jadi pengusaha.

Dia menjuduli buku ini dengan "Kecil-kecil jadi Pengusaha." Masih ada tempelan kalimat di belakang judul itu, "A Gokil Story"! Sebenarnya karyanya bukan hanya yang satu ini.

Dia memang gokil, tentu saja dalam makna yang positif. Justru setiap kata dirangkai dan setiap lelucon yang dia sampaikan, menunjukkan betapa cerdas dan luasnya wawasan anak ini. Perhatikan pengantar dia di awal bukunya di bawah ini.

"Awal tahun ini, emak dan daddy bilang, tambah umur mustinya tambah karya. Tiba-tiba gua nyadar. Bener juga tuh ortu. Ya udah deh, gue kelarin ni buku. Tapi gua maunya naskahku jangan diedit kebanyakan, ntar jadi kayak tulisan Pak Dendy Kepala Pusat Bahasa hihihi..Emak setuju. Tooosss! Paling2 ntar editornya bilang "Bagus deh ngeringanin kerjaan gue." Hehe, lucu kan?

Itu baru pengantarnya. Dari awal sampai akhir, buku tipis 90 halaman ini terus-terusan memaksa bibir Anda menyungging senyum karena mendapati dan membayangkan kegokilan yang cerdas dari si empunya cerita.

Tapi jangan salah sangka. Isi kisahnya sendiri serius, yaitu tentang manajemen usaha, mengambil inisiatif, cara memimpin dan mengoordinasikan anak buah, mencari hal-hal baru dalam hidup, bagaimana 'tampil beda,' pengambilan keputusan, dan banyak lagi.

Penerbit buku ini, Pustaka Bestari, ingin menggugah semangat kewirausahaan pada kaum muda, dari anak usia SD, SMP, sampai SMA. Dan memang target utama buku ini adalah anak-anak seusia itu.

Pustaka Bestari ingin jiwa wirausaha ditanamkan dalam-dalam sejak usia dini. Melalui buku ini mereka ingin turut mengubah masyarakat 'pencari kerja', menjadi 'pencipta lapangan kerja.' Konon, negara bisa makmur jika memiliki sedikitnya 2% wirausaha. Indonesia baru 0,18 % penduduknya berwirausaha. Pantas saja Indonesia kalah makmur dari sejumlah negara.

Upaya penerbit mengajak Nilam Zubir untuk menuliskan pengalamannya menjadi pengusaha cilik, tepat sekali. Bagi orang-orang dewasa, buku tergolong memotivasi ini mungkin terkesan kurang serius.

Tapi lain bagi anak-anak usia belia. Lagi pula, tidak adil mengajak anak-anak memahami dunia yang masih sulit dirabanya, jika kita tak mengenal dunianya, termasuk gaya berkomuniksi mereka.

Nilam Zubir berhasil menunaikan tugas sebagai penyampai dan pengajar yang baik.

Selain dia sendiri bagian dari dunia anak-anak itu, Nilam mampu mengajak kawan-kawan sedunianya untuk menyelamati hal-hal fantastis yang justru berguna ketika anak masuk ke kehidupan yang sesungguhnya.

Mempelajari hal serius tidak harus selalu dengan muka serius. Nilam melakukan ini. Buku ini ditarik dari pengalaman hidup sehari-hari Nilam saat bersama saudaranya merintis usaha dan mengikuti banyak aktivitas yang umumnya bisa "diuangkan".

Di sini, ada ajaran moral yang dibagi Nilam yang diperolehnya dari wejangan luhur orangtuanya. Dia dirancang untuk bisa berbisnis dari kecil, tetapi itu tidak membuatnya menjadi komersil atau matre.

Ajaran orangtua ternyata tetap yang terampuh, setidaknya dari penuturan Nilam mengenai sejumlah nilai moral yang diajarkan orangtuanya, diantaranya diungkapkan dalam salah satu bagian akhir bukunya, "Kata emak, kalo konsep dagangnya diniatin jadi wirausahawan sosial, itu akan membuat kita jadi gak serakah, jadi mikirin ornag lain, jadi peka sosial, dan peka situasi (gua udah apal luar kepala...tenooooot J).

Kendati Nilam menyampaikannya dalam gaya berseloroh, petuah moral yang diajarkan ibunya itu amat sarat nilai.

Jadi, kalau satu saat anak Anda menimpali Anda dengan kalimat sekenanya seperti Anda akan jumpai dalam buku ini, jangan marah dulu, mungkin sebenarnya anak Anda memahami dan menuruti petuah Anda.

Pelajaran bagus lainnya yang bisa dipetik dari Nilam adalah kemauannya untuk selalu mencoba dan mengenali hal baru. Dia juga mengajarkan, menjadi pengusaha itu adalah juga soal kemauan memetik pelajaran dari orang-orang sukses.

Maka disebut-sebutlah oleh Nilam tokoh-tokoh besar seperti pendiri Bank Grameen Muhammad Yunus, pengusaha Moeryati Soedibyo dan Pia Alisyahbana, konsultan-konsultan bisnis yang sarannya selalu diperhatikan orang, dan banyak lagi.

Di akhir bagian buku, masih dalam gaya 'gokil'-nya, Nilam berbagi kiat mengenai bagaimana baiknya memulai, mengelola, dan mengembangkan usaha.

Kiat pertama, katanya, berani memulai. Lalu, pilih usaha yang dimengerti dan bisa dijalankan. Selanjutnya, buatlah perencanaan dan konsep usaha yang jelas. Kemudian --nah ini yang keren-- membuat tim kerja dan internal sistem serta SOP. Berikutnya, berpikir tepat cara mengembangkan usaha.

Karena buku ini ditulis oleh yang memahami alam pikiran anak muda, dan karena juga isinya mencerahkan, maka buku ini pantas dimiliki dan dibaca anak Anda, bahkan Anda sendiri.

Jika seorang pengusaha kesulitan mengajari anak-anaknya untuk belajar berusaha agar bisnis mereka ada pelanjutnya, buku ini mungkin membantu keinginan Anda itu. Juga, siapapun yang bukan pengusaha.

Percayalah, jarang ada buku berisi hal serius yang menjadi bekal hidup manusia, disampaikan dengan cara gokil seperti buku ini.

Anda dan anak Anda dijamin menikmatinya dari awal sampai akhir. Tapi harap ingat, jangan sendirian membaca buku ini. Salah-salah orang akan mengatai Anda gokil alias gila, karena Anda akan mesem-mesem sepanjang membaca buku ini.

Oke, selamat membaca.

Senin, 23 Mei 2011

50 Biksu Pesan Tongkat dari Akar Bahar

Muntok, Bangka Barat (ANTARA News) - Sebanyak 50 biksu di Indonesia memesan tongkat yang bahannya dari akar bahar pada perajin di Kabupaten Bangka Barat, karena dinilai lebih kuat dan memiliki khasiat mengobati berbagai macam penyakit.

"Para biksu memilih tongkat dari akar bahar karena dinilai lebih tahan lama hingga ratusan tahun dan berkhasiat mengobati berbagai macam penyakti seperti rematik, maag dan jenis penyakit lainnya," kata Vera, seorang perajin akar bahar di Muntok, Minggu.

Ia menjelaskan, tongkat akar bahar dengan bentuknya yang unik dan mengkilat itu sudah selesai dibuat dan dalam bulan ini diambil pemesannya dengan harga satu tongkat sepanjang sekitar setengah meter Rp5 juta/tongkat.

"Selain tongkat, para biksu juga memesan kalung berbentuk tasbih yang bahannya juga dari akar bahar yang harganya sedikit lebih murah dibanding tongkat," ujarnya.

Menurut dia, setiap tahun para biksu yang tersebar di seluruh Indonesia selalu memesan akar bahar dan sudah menjadi langganan tetap, karena akar kayu bahar yang hanya ditemukan di hutan Bangka Barat lebih awet, tidak terlalu berat dan bentuknya yang unik.

"Kami juga selalu menerima pesanan para pejabat kepolisian yang ingin membuat tongkat komando yang bahan bakunya dari akar bahar, dengan harga mencapai Rp15 juta karena pada kepala tongkat dilapisi emas," ujarnya.

Menurut dia, akar bahar dibeli dari para nelayan dan petani di Bangka Barat dengan harga yang tidak terlalu mahal karena sangat mudah didapatkan di hutan daerah itu serta mengambilnya tidak terlalu rumit.

"Setiap hari ada para petani ladang dan nelayan yang menjual akar bahar kepada kami, dengan harga tidak terlalu mahal karena mereka menemukan akar bahar secara kebetulan saja," ujarnya dan enggan menyebutkan harga akar bahar yang dibeli dari para petani dan nelayan tersebut.

Ia menjelaskan, akar bahar mudah dibentuk dan dibuat beraneka jenis souvenir seperti gelang, cincin, kalung, tongkat, mainan kunci, anting dan aneka bentuk lainnya yang cukup menarik dan unik.

"Dalam satu hari kami mampu memproduksi mencapai ratusan unit souvenir dari akar bahar dengan bentuk yang beragam, dikerjakan sebanyak 20 karyawan dan mampu menembus pendapatan mencapai Rp60 juta per bulan," ujarnya.

Menurut dia, kerajinan akar bahar di Bangka Barat sudah berkembang sejak puluhan tahun silam dan sudah dikenal masyarakat nasional dan internasional.

Proses pembuatan souvenir dari akar bahar tidak menggunakan alat canggih, tetapi murni dikerjakan secara tradisional oleh perajin yang memiliki jiwa berkreasi dan seni.

"Mayoritas pelanggan akar bahar berasal dari luar daerah, bahkan ada yang dari Malaysia, Singapura dan Thailand serta dicari para wisatawan untuk souvenir," ujarnya.

Ia mengatakan, souvenir akar bahar yang merupakan kerajinan tangan tradisional khas Bangka Barat terus dipromosikan ke luar daerah dan bahkan hingga ke luar negeri, melalui pameran seni dan budaya.

"Kami sudah mempromosikan akar bahar di seluruh provinsi di Indonesia, bahkan sudah sampai ke Malaysia, Singapura dan Thailand," ujarnya.

Disinggung mengenai harga yang relatif tinggi, kata dia, cukup wajar karena proses pembuatannya cukup lama dan butuh keahlian dari para perajin yang memiliki jiwa seni.

"Namun ke depan kami mencoba membuat souvenir dari akar bahar yang harganya relatif terjangkau, sehingga mampu menembus kelas ekonomi menengah ke bawah," ujarnya. (HDI/I013/K004)

Sabtu, 21 Mei 2011

Ini Siswi SMK Peraih UN Tertinggi


Atik Fajariyani memperoleh nilai 10 untuk pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris.

VIVAnews - Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi rangking 1 dari 4 kabupaten dan 1 kota di DIY dalam tingkat kelulusan siswa pada Ujian Nasional tahun 2011 ini.

Prestasi yang semakin membanggakan adalah salah satu siswi SMK Negeri 1 Bantul mendapatkan peringkat nomor 1 secara nasional dalam nilai ujian nasional yaitu 9,60.

Siswa yang meraih nilai tertinggi nasional dalam UN 2011 adalah Atik Fajariyani, 18, siswi jurusan akutansi, SMK Negeri 1, Kabupaten Bantul. Bahkan putri dari Sambudi, warga Dusun Gandekan, Desa Guwosari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul ini dalam mata pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris mendapatkan nilai sepuluh. Sebuah nilai fantastik dan jarang terjadi.

"Sebelumnya kita tidak percaya dengan nilai yang diperoleh Atik, namun demikian setelah staf dari Kemendiknas menghubungi sekolah, kami benar-benar bersyukur dan bangga," kata Kepala Sekolah SMKN I Bantul Endang Suryaningsih, Sabtu, 21 Mei 2011

Prestasi yang diukir oleh Atik tak saja membanggakan bagi sekolah dan orang tuanya, namun juga turut mengharumkan Kabupaten Bantul di tingkat Nasional. "Ini tidak hanya bagi siswi yang bersangkutan, namun bagi kami pihak sekolah serta kebanggaan Bantul," ujarnya.

Kepala Dinas Pendidikan Menengah dan Non Formal (Dikmenof) Kabupaten Bantul Masharun Ghazalie mengatakan, prestasi yang ditunjukkan Atik Fajaryani merupakan prestasi yang luar biasa. Atas prestasi ini, Atik langsung mendapatkan beasiswa dari pemkab sebesar Rp7,5 juta. "Dinas Sosial akan memberikan beasiswa kepada Atik sebesar Rp 7,5 juta," ujarnya.

Lebih lanjut Masharun menyatakan selain Atik, terdapat 9 siswa berprestasi lainnya di Bantul yang juga mendapatkan beasiswa dari Pemkab Bantul dengan total sebesar Rp20 juta. "Untuk pemberian beasiswa sesuai dengan prestasinya. Tertinggi ya Atik Fajaryani karena tertinggi tingkat nasional," ujarnya.

Bupati Bantul Sri Suryawidati menyatakan sangat bangga terhadap prestasi yang diukir oleh Atik dengan menjadi siswa yang memperoleh nilai UN tertinggi di Indonesia. “Mewakili masyarakat Bantul saya sangat bangga dan ini semoga menjadi contoh bagi siswa lainnya di Bantul untuk berprestasi di tingkat nasional,” ujarnya.

Atik Fajariyani mengaku kiat-kiat untuk memperoleh nilai tinggi dalam UN adalah belajar dengan giat. “Setiap hari saya belajar pada pukul 04.00 WIB, sebelum subuh,” ujarnya.

Atas prestasi yang diperolehnya ini Atik Fajariyani mengaku mendapatkan tawaran beasiswa dari berbagai pihak ini juga telah diterima sebagai mahasiswa jurusan akutansi di UNY. “Selama menempuh studi di UNY saya digratiskan hingga lulus," ujarnya.

Kebahagian Atik semakin lengkap mana kala Bupati Bantul Sri Suryawidati memberikan hadiah sebuah laptop yang diharapkan dapat menunjang dalam studi di kemudian harinya. (Laporan: Juna Sanbawa, Bantul | umi)