Sabtu, 15 Oktober 2011

Yogyakarta raih tujuh medali olimpiade penelitian siswa

Jakarta (ANTARA News) - Daerah Istimewa Yogyakarta berhasil meraih tujuh medali pada Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2011 yang diikuti 90 siswa SMA dari 17 provinsi di Indonesia.

"Keberhasilan Yogyakarta meraih medali terbanyak membuktikan, bahwa propinsi tersebut akan memiliki bibit peneliti di masa datang," kata Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal saat menutup OPSI di Jakarta, Rabu.

Fasli menambahkan masyarakat Indonesia saat ini sedang dihadapkan pada persoalan seperti korupsi dan kekerasan, tetapi sebenarnya orang luar melihat Indonesia ini adalah negara dengan potensi yang besar.

"Kita harus punya mimpi suatu saat menjadi bangsa yang bermartabat. Dan mimpi itu harus dibangun dari sekarang, dan itu bisa dimulai dengan melakukan penelitian di sekolah," katanya.

Jika kreativitas dan inovasi dikembangkan sejak sekarang di tingkat sekolah maka lanjut Fasli Indonesia sudah punya calon peneliti ke depan.

Fasli pada kesempatan itu juga mengimbau kepada guru agar mengarahkan anak didiknya menjadi siswa yang kreatif dan inovatif sehingga impian Indonesia menjadi negara terbesar ke-8 di dunia pada 2045 bukan hal yang mustahil.

"Untuk memacu semangat anak bangsa menjadi para peneliti handal pemerintah memberikan insentif pendanaan kegiatan inovasi dan kreatifitas kepada sekolah-sekolah di seluruh Tanah Air," katanya.

lebih lanjut Wamendiknas mengatakan saat ini pemerintah sedang mengembangkan pemberian kesejahteraan yang lebih kepada para peneliti di Indonesia.

"Kami mendorong siswa-siswa yang berhasil pada olimpiade peneliti siswa kali ini untuk menjalin komunikasi dengan orang-orang pintar yang dimiliki Indonesia," katanya.

Indonesia mempunyai 2000 profesor yang tersebar di 27 negara dan seanyak 45 pelajar yang tergabung dalam pelajar Indonesia di 45 negara. "Mereka semua bisa dijadikan referensi untuk menjadi anak bangsa yang terbaik," ujarnya.

Fasli mengatakan opsi ini diadakan dengan memberikan banyak peluang. Kategori yang diberikan banyak yaitu kategori juara, penghargaan makalah, display, poster favorit, penghargaan bidang ilmu matematika, fisika, kimia, biologi. Hal itu dimaksudkan agar olimpiade ini tidak elitis.

Dengan demikian semakin banyak siswa yang mendapat kesempatan karena ruang geraknya lebih terbuka sehingga akan muncul potensi dari daerah-daerah, tambahnya.

Para pemenang medali emas, yakni Bintang Rantau Randa dan tim dari SMAN 1 Kasihan Bantul, Febrianti Silviana Dewi dan tm dari SMA Muhammadiyah 2, DIY.

Medali perak diraih Ridwan Budiyanto dan tim dari SMAN I Karangmojo DIY, medali perunggu diraih Maulida Norma Anisa dari SMAN I Yogyakarta. Penghargaan makalah diraih Bintang Rantau Randa dan tim SMAN 1 Kasihan Bantul, DIY, penghargaan interaksi diraih irfan Joyo Kusumo dari SMAN I Yogyakarta dan penghargaan bidang ilmu matematika diraih Rahmat Hadi Saputro dari SMAN 1 Yogyakarta.
(T.Z003/S006)

Selasa, 11 Oktober 2011

UGM luncurkan website "Rumah Pintar"

Yogyakarta (ANTARA News) - Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Gadjah Mada dan Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu meluncurkan "website" rumah pintar dan motor pintar wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

"Keberadaan `website` tersebut diharapkan semakin menarik bagi pihak pengelola untuk meningkatkan jaringan dan pembangunan kapasitas di bidang teknologi informasi," kata Ketua II Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB) Ny Djoko Suyanto dalam sambutan yang dibacakan Ny Dani Hendarman Supanji.

Selain itu, menurut dia pada peluncuran "website" tersebut, diharapkan juga akan meningkatkan kesejahteraan dan perekonomian masyarakat di sekitar lokasi rumah dan motor pintar.

Ia mengatakan, saat ini di DIY terdapat tujuh rumah pintar dan delapan motor pintar. Program rumah dan motor pintar merupakan implementasi dari program pilar Indonesia Pintar yang dicanangkan oleh SIKIB dan telah berkembang pesat dan tersebar hampir di seluruh Indonesia.

Kepala Bidang Pengembangan dan Layanan Riset Industri LPPM UGM Yusril Yusuf mengatakan, sasaran kegiatan rintisan rumah pintar adalah masyarakat perdesaan maupun perkotaan yang dipandang perlu mendapat fasilitas untuk meningkatkan wawasan pengetahuan, kecakapan hidup, dan pengembangan sikap mental keribadian dalam upaya menyelaraskan dengan perkembangan masyarakat.
(B015*H010)

Kamis, 15 September 2011

Juara Asia Tiba di Tanah Air

INILAH.COM, Jakarta - Timnas U-15 yang baru saja menjuarai Piala Pelajar Asia 2011 (Asian Student Cup Football Tournament) di Thailand tiba di Tanah Air dengan sambutan yang meraih meski tanpa kehadiran pengurus PSSI.
Indra Kelana Nasution dan kawan-kawan saat tiba di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang Banten, Senin hanya disambut oleh orang tua pemain serta perwakilan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga.
"Kita sangat bersyukur dengan kemenangan ini. Ini sebuah prestasi yang pantas dibanggakan," kata manager timnas U-15, Roni Iswandi setibanya di Tanah Air.
Timnas U-15 sukses menjadi juara setelah dibabak final mampu mengalahkan tuan rumah Thailand dengan skor akhir 2-1. Bahkan timnas Garuda muda ini mampu unggul 2-0 terlebih dahulu sebelum diperpendek selisih golnya oleh lawan.
Menurut dia, pada babak final anak asuh Rasiman itu harus berjibaku dengan lapangan yang becek. Meski demikian, timnas mampu mengendalikan jalannya pertandingan sehingga mampu mengalahkan tim tuan rumah.
Roni mengaku, sejak timnya lolos ke babak semifinal pihaknya langsung menginformasikan ke Ketua Umum PSSI Djohar Arifin Husin. Hanya saja, informasi yang diberikan belum mendapatkan respon dari pucuk pimpinan federasi sepak bola Indonesia itu.
"Saya langsung sms Pak Djohar, tapi hingga saat ini tidak dapat balasan. Padahal sudah tak kasih nama saya di sms itu," katanya menambahkan.
Meski tidak mendapatkan respon dari PSSI, Roni mengaku tidak kecewa karena dirinya dan tim saat ini telah sukses membawa timnas muda Indonesia menjadi yang terbaik didataran Asia.
Ia menjelaskan sebetulnya tim yang dibawa ke Thailand ini bukan tim yang dibentuk sebelumnya. Timnas ini merupakan campuran dari pemain Indonesia Football Academy (IFA), Jakarta Football Academy (JFA), MUBA dan UNI Bandung.
"Tim yang saya bentuk sempat dikatakan tim tarkam oleh pak Bob Hippy. Ternyata tim yang saya bentuk malah dibawa ke Thailand untuk kualifikasi AFC U-16. Hanya empat pemain saja yang turun di U-15," katanya dengan tegas.
Dengan hasil yang diraih saat ini, Roni berharap timnas U-25 yang telah dibentuk tidak dibubarkan. Jika dibutuhkan untuk pertandingan yang lain hanya diperlukan tambal sulam saja.
Timnas U-15 selain mampu menjadi yang terbaik juga dinobatkan sebagi tim fair play. Selain itu pemain depan Indra Kelana Nasution dinobatkan sebagai pemain terbaik dan pencetak gol terbanyak. Sedangkan Awan Setoraharjo sebagai penjaga gawang terbaik.
Sementara itu Asisten Deputy Sentra Keolahragaan Kemenpora Raden Isnanta mengaku bangga dengan prestasi yang diraih oleh timnas U-15 sebagai juara Piala Pelajar Asia 2011.
"Kami turut bangga dengan prestasi yang diraih anak bangsa ini. Ini salah satu bentuk pembinaan atlet yang baik," katanya di Bandara Soekarno Hatta.
Menurut dia, tim yang harus dibina dengan baik atau bahkan bisa dimasukkan ke Program Indonesia Emas (PRIMA). Berhubung pemain timnas ini bukan hanya dari Diklat Ragunan maka bisa dimasukkan dalam PPLP-PPLP yang ada di Indonesia. [antara]

Kamis, 08 September 2011

Dua perak Astronomi untuk siswa Indonesia

Surabaya (ANTARA News) - Tim siswa SMA Indonesia berhasil meraih dua medali perak dan satu medali perunggu dalam ajang International Olympiad on Astronomy and Astrophysics (IOAA) ke-5 atau Olimpiade Astronomi Internasional ke-5 di Katowice dan Krakow, Polandia.

Dalam siaran persnya, Selasa, Staf khusus Mendiknas Sukemi mengatakan, satu medali perunggu diraih oleh M. Wildan Ghafari dari SMA Semesta Semarang, sedangkan dua medali perak diraih Ko Matias Adrian dari SMA Negeri 5 Bekasi dan Raymond Djajalaksana dari SMAK Penabur, Jakarta.

Para jawara astronomi ini disambut para pejabat kementerian pendidikan Senin malam setibanya dari Polandia. 

"Olimpiade itu diikuti 29 tim dari 26 negara dengan jumlah peserta sebanyak 134 siswa SMA, sedangkan Indonesia mengirimkan lima siswa SMA dari Bekasi, Jakarta, Semarang, Gresik, dan Surabaya," kata Sukemi.

Kelima siswa SMA itu adalah Ko Matias Adrian (SMA Negeri 5 Bekasi), Raymond Djajalaksana (SMAK IPEKA Sunter Jakarta), M. Wildan Ghafari (SMA Semesta, Semarang), Miftahul Hilmi (SMA Negeri 1 Gresik), dan James Lim (SMAK Petra Surabaya).

Mereka didampingi dua tim leader dari ITB yakni Dr Hakim L. Malasan dan Dr Mohammad Ikbal.

Selain dua perak dan satu perunggu, Indonesia, melalui Dr Chatief Kunjaya, terpilih menjadi Presiden IOAA untuk periode 2012-2016.(*)

Selasa, 06 September 2011

Mahasiswa UNY kembangkan pengusir tikus

Yogyakarta (ANTARA News) - Mahasiswa Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta Soni Maringgih mengembangkan alat pengusir tikus berbasis mikrokontroler yang menghasilkan gelombang suara dengan frekuensi sangat tinggi atau ultrasonik. "Alat pengusir tikus itu menggunakan rentang frekuensi sesuai dengan batas pendengaran tikus, tetapi di atas batas pendengaran manusia, sehingga tidak berbahaya bagi manusia," kata Soni di Yogyakarta, Minggu. Menurut dia, alat tersebut didesain dengan dua bagian pokok perangkat, yakni perangkat lunak dan perangkat keras. Perangkat keras terdiri atas sistem yang berfungsi sebagai kendali utama, yakni pengolah data dan pengontrol keseluruhan sistem. "Masukan berupa tombol pengatur gelombang dan keluaran berupa `liquid crystal display` (LCD) yang berfungsi untuk menampilkan berapa gelombang yang dihasilkan dan `speaker` untuk mengeluarkan gelombang ultrasonik," katanya. Ia mengatakan cara kerja alat itu diawali dengan memilih frekuensi melalui penekanan tombol pemilih frekuensi yang telah disediakan. Sistem akan memproses data yang telah diprogram dan meneruskannya ke transistor untuk diperkuat, selanjutnya ke "speaker". "Speaker" mengeluarkan frekuensi yang dapat didengar (10kHz dan 15kHz), dan yang tidak dapat didengar (30kHz dan 40kHz), kemudian LCD akan menampilkan berapa frekuensi yang dikeluarkan oleh rangkaian tersebut. "Ke depan, saya masih ingin mengembangkan alat pengusir tikus ini dengan memperluas cakupan gelombang frekuensi. Dengan demikian, alat tersebut dapat digunakan di mana pun, karena saat ini jangkauan jarak terjauh alat itu hanya sekitar lima meter," katanya.

Kamis, 18 Agustus 2011

Bocah TK sukses mendaki 10 puncak gunung


Pamekasan (ANTARA News) - Arya Cahya Mulyana Sugianto (6) asal Pamekasan, Madura, Jawa Timur (Jatim) akhirnya sukses mendaki 10 puncak gunung di Indonesia yang dilakukan mulai Mei hingga Agustus 2011 ini.

"Pendakian terakhir yang dilakukan Arya di Puncak Mahameru bertepatan dengan HUT ke-66 Kemerdekaan RI," kata Bagian Humas Tim Pendamping Pendakian Arya, Kusnindar kepada ANTARA, Kamis.

Saat menyampaikan informasi itu, Kusnindar bersama pendaki cilik Arya yang tergabung dalam tim "Ekspedisi Cahaya Merdeka 2011" tengah berada di pos pendakian Gunung Mahameru, Ranupane.

Pendakian ke puncak terakhir dari 10 gunung yang dilakukan bocah yang masih tercatat sebagai murid di Taman Kanak-kanak (TK) Pertiwi itu merupakan kali kedua, setelah setahun sebelumnya pada tanggal dan bulan yang sama, anak dari pasangan suami istri Agus Sugianto (41) dan Tri Yuli Mulyanti (40), asal Pamekasan ini juga mendaki gunung yang memiliki ketinggian 3.676 meter di atas permukaan air laut (Mdpl) tersebut.

Arya mulai berangkat melakukan pendakian ke 10 puncak gunung di Indonesia pada tanggal 12 Mei dan dilepas secara langsung oleh Bupati Pamekasan di pendopo Pemkab setempat.

"Rencananya kami akan tiba di Pamekasan setelah pendakian terakhir di puncak Mahameru ini pada tanggal 21 Agustus nanti," kata Kusnindar menjelaskan.

Pendakian pada 10 puncak gunung yang dilakukan oleh Arya Cahya Mulyana Sugianto, bocah itu untuk pertama kalinya pada puncak Gunung Ciremai di Kuningan, Jawa Barat yang memiliki ketinggian 2.900 meter di atas permukaan laut (Mdpl).

Selanjutnya pendakian dilanjutkan ke puncak Gunung Slamet di Purbalingga, Jawa Tengah, Gunung Sindoro di Temanganggung, dan Gunung Wonotirto.

Kemudian ke Gunung Lawu, Gunung Rinjani, Gunung Agung, Gunung Welirang, Gunung Arjuno dan Gunung Semeru.

Menurut Kusnindar, meski telah melakukan pendakian pada 10 puncak gunung, bocah Arya Cahya Mulyana Sugianto masih sehat dan bersemangat

"Kalau orang tuanya berkenan, dia masih minta mendaki satu gunung lagi, yakni gunung Bromo. Jadi kemungkinan Arya tidak kembali ke Pamekasan sesuai jadwal," kata Kusnindar menjelaskan. (ANT)

Books for Hope Perluas Wawasan Anak Pedesaan


VIVAnews - Books for Hope, organisasi nirlaba yang bertekad mengapuskan siklus kemiskinan melalui pengadaan perpustakaan dan laboratorium komputer di wilayah pedesaan menggandeng Acer dan Microsoft untuk menjalankan programnya.

“Lahir dari keluarga miskin atau terpencil di pedesaan bukanlah kesalahan anak-anak. Anak-anak seperti ini membutuhkan campur tangan kita agar mereka bisa keluar dari lingkaran kemiskinan,” kata Grace Sai, Chief Executive Officer sekaligus pendiri Books for Hope pada talkshow bertajuk ‘Social Entrepreneurship and Online Movement for Social Change’ yang diadakan oleh FreSh (Freedom of Sharing) Forum, 24 Juni 2009.

Anak-anak yang tinggal di pelosok tidak mengetahui bahwa banyak yang bisa mereka lakukan ketika mereka dewasa. “Saya pernah mengajukan pertanyaan pada puluhan anak di sebuah perkampungan terpencil, apa cita-cita mereka. Ternyata hanya ada 3 cita-cita yang mereka ketahui yakni dokter, guru, dan petani karena profesi itulah yang ada di keseharian mereka,” kata Grace. “Dengan membaca buku atau internet, wawasan mereka akan terbuka bahwa mereka bisa menjadi astronot, ilmuwan, atau apa saja saat mereka dewasa kelak,” ucapnya.

Books for Hope menggandeng Acer dan Microsoft untuk memberikan nilai tambah pada program mereka dengan menyediakan hardware dan software yang bisa mendukung dan menjangkau kalangan yang lebih luas.

Acer menyediakan hardware untuk membantu pembelajaran dan Microsoft menyediakan Windows Multipoint dan aplikasinya seperti Mouse Mischief yang membuat satu komputer di kelas bisa digunakan secara bersama-sama oleh sampai 35 siswa sekaligus.
“Saya yakin, dengan mengajarkan anak-anak keahlian komputer, mereka akan dapat berpartisipasi dalam perekonomian modern di masa depan,” ucap Grace.

Kamis, 04 Agustus 2011

Mahasiswa ITB Ikuti Forum Internasional Youth Science


London (ANTARA News) - Delapan mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) mengikuti forum London International Youth Science Forum (LIYSF) di London Imperial College yang digelar tanggal 27 Juli hingga 10 Agustus mendatang.

Ketua delegasi Indonesia ke forum LIYSF, Yosi Ayu Aulia dari jurusan mikrobiologi ITB, di London, Jumat mengatakan LIYSF yang digelar untuk ke 52 kalinya itu secara resmi dibuka Kamis siang.

Menurut Yosi, acara diawali dengan parade bendera dari masing-masing negara partisipan dibuka secara resmi oleh Profesor Richard O`Kelly, presiden LIYSF yang juga menjabat sebagai Vice President of Learning Innovation Dublin City University.

Acara kemudian dilanjutkan pidato kunci oleh Professor John Shepherd dari Southampton University UK, Professor Julia Buckingham dari University of Sheffield, dan Proffesor Ralph Rayner dari Institute of Marine Engineering.

Menurut Yosi Ayu Aulia, acara dilanjutkan dengan dengan kuliah mengenai epidemiologi oleh Roy Anderson dari School of Public Health Imperial College dan ditutup dengan pesta selamat datang yang diikuti sekitar 200 peserta dari 50 negara dan panitia penyelenggara LIYSF 2011.

Prof John Shepherd dari Southampton University UK dalam pidato yang berjudul "Sea for Life" mengemukakan bahwa lautan adalah wahana ilmu pengetahuan dan penopang kehidupan yang masih sangat luas dan sangat penting namun sangat minim pemahaman sehingga sangat dibutuhkan untuk terus dieksplorasi.

Lautan tidak hanya berfungsi sebagai sumber daya alam, namun juga sebagai penjaga iklim dan penyerap CO2. Oleh karena itu, eksplorasi dan perkembangan ilmu pengetahuan tentang laut sangat dibutuhkan dunia ini karena laut memiliki fungsi yang vital bagi kelangsungan kehidupan di dunia.

Masih menurut Yosi Ayu Aulia, delapan utusan ITB menjadi satu-satunya wakil Indonesia dalam ajang tahunan yang akan diikuti oleh lebih dari 50 negara dunia.

LIYSF sendiri diikuti oleh akademisi dari berbagai perguruan tinggi yang berasal dari berbagai negara, seperti negara-negara di Eropa, yakni Jerman, Swis, Asia seperti Malaysia, Jepang, Korea, serta negara Amerika.

Sehari sebelum penyelenggaraan Yosi bersama ketujuh rekan-rekannya mengadakan kunjungan ke KBRI London dan diterima Atase Pendidikan KBRI London T.A Fauzi Soelaiman yang merasa bangga Indonesia - khususnya mahasiswa ITB - bisa mengikuti acara yang bergengsi .

Ia berharap delegasi Indonesia dapat memetik manfaat pengalaman yang didapat dalam forum yang khusus membahas masalah kelautan, apalagi Indonesia merupakan negara kepulauan yang kaya akan sumber daya alam bawah laut.

Peserta yang juga mengikuti forum itu adalah Astri Elia yang juga dari mikrobiologi, Dinda Husna, Mila Irva Sari, dan Nur Akmalia Hidayati dari fakultas kimia.

Selain itu Rahesti Husnindriyani dan Rufaida Abudan dari astronomi serta Gede Wira Wibawa Eka Putra dari Teknik Kelautan yang dalam forum tersebut masing-masing akan membawakan penelitian mereka yang mengangkat tema kelautan.

Selama di Inggris peserta forum juga mengikuti berbagai acara di antaranya kunjungan ke universitas di Oxford dan Cambridge serta ke daerah tujuan wisata lainnya.

Mereka juga akan menunjukkan kebolehan mereka dalam acara bazar mahasiswa di Student Union dan International Cabaret akan dilaksanakan tanggal 5 Agustus.

"Kami akan menampilkan kesenian Indonesia berupa tari Saman," ujar Yosi yang merasa bangga bisa mengikuti forum yang sangat bergensi, apalagi Indonesia sebagai negara kepulauan tema yang diangkat tahun ini sangat relevan dengan Indonesia.
(ZG)